• Bandung
  • 22/10/2021
0 Comments

Sejak pertama kali diselenggarakan, seleksi nasional penerimaan mahasiswa baru Perguruan Tinggi Negeri sudah mengalami beberapa kali berganti bentuk. Mulai dari SKALU (Sekretariat Kerjasama Antar Lima Universitas) pada tahun 1976, kemudian berkembang menjadi Proyek Perintis. Setelah itu berturut-turut menjadi Sipenmaru (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru), UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), hingga menjadi SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) pada tahun 2008.

Pada tahun 2011 SNMPTN kemudian dikembangkan menjadi dua pola. Pola pertama adalah penelusuran minat dan kemampuan yang tetap menggunakan nama SNMPTN. Pola kedua adalah melalui ujian tertulis yang disebut dengan SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Selain melalui jalur ini, PTN juga menyelenggarakan seleksi yang diselenggarakan secara mandiri. Dengan demikian ada tiga pintu memasuki PTN: SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri.

Pada 4 Januari 2019 Kementerian Ristekdikti meluncurkan lembaga baru bernama LTMPT atau kependekan dari Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi. LTMPT inilah yang menyelenggarakan proses SBMPTN melalui mekanisme yang disebut UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer). Diharapkan LTMPT akan berkembang menjadi lembaga permanen yang melayani seleksi masuk PTN dengan standar nasional.

Sesuai dengan namanya, UTBK dilakukan menggunakan komputer dan terkoneksi secara daring. Karenanya proses ujian bisa dilakukan secara serempak dan terkendali secara terpusat, sehingga memastikan standar yang digunakan adalah seragam secara nasional. Penghitungan nilai juga dilakukan secara kumulatif dengan mempertimbangkan tingkat kesulitan soal. Ini menjadi cukup berbeda dengan ujian-ujian di era sebelumnya karena nilai akhir tidak dapat ditentukan secara independen.

Pada era sebelumnya kita dapat menghitung nilai dengan mudah, misalnya jawaban benar mendapat nilai +4 sedangkan jawaban yang salah mendapat nilai -1. Namun pada UTBK, bobot tersebut tidak statis. Tetapi sangat tergantung dari berapa banyak peserta ujian dari seluruh Indonesia yang menjawab benar. Baru kemudian bobot sebuah soal dapat ditentukan. Ini menyebabkan latihan UTBK tidak dapat dilakukan secara mandiri, karena pada UTBK yang sebenarnya, faktor jumlah peserta dengan berbagai kemampuannya memegang peran yang sangat penting.

Edubox berusaha memfasilitasi try-out UTBK secara terprogram dan terjadwal. Tim pembuat soal kami sudah menyusun paket soal yang dapat dikerjakan oleh siswa calon peserta UTBK, sehingga siswa terbiasa menghadapi soal UTBK dan bisa mendapatkan perkiraan score UTBK yang lebih mendekati UTBK sebenarnya.

Kami mengundang sekolah bapak dan ibu guru untuk mengikuti program try-out UTBK yang kami selenggarakan. Try-out UTBK ini terdiri dari 10 kali ujian, yang akan dimulai pada bulan Agustus 2021 hingga sebelum pelaksanaan UTBK 2022. Jika bapak dan ibu guru berminat mengikutsertakan sekolahnya dalam program ini, silakan klik link berikut. Ada harga penawaran khusus dari kami untuk pendaftar dini di bulan Juli 2021 ini.

Author

pinisiedu@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *